[TRIP 1] PAKISTAN
 |
| map of pakistan |
 |
| bendera pakistan |
Dari sekian perjalanan yang dilakukan...harus ini
yang ditulis pertama.Kenapa?Karena perjalanan ini yang paling berkesan,lama,dan
satu-satunya saya ingat. Yang lebih lama dari ini saya udah lupa.
Bermula dari pekerjaan papa saya yang merupakan penerbang di
maskapai Pakistan sebut saja Sha**en Airlines saat itu. Ia tinggal menetap di
kota Karachi. Setelah sekian tahun menetap disana tibalah keinginan untuk
mengajak keluarganya di Jakarta bermain-main kesana.
28 FEBRUARI 2009
 |
| ki-ka : Gusti,Mba Nana,Kimo,Mama,Papa,Ifa |
Ketika itu usia saya 15 tahun. Saya memiliki seorang adik
laki-laki,namanya Kimo,yang lahir 5 tahun setelah saya lahir. Kakak saya ada
dua orang,yang tertua namanya Nana (perempuan) lahir 5 tahun sebelum saya dan
yang kedua Gusti (laki-laki) lahir 3 tahun sebelum saya. Kami berangkat ber5 dengan mama dari Bandara Soetta naik
maskapai Thai. Tidak banyak maskapai yang meyediakan rute jakarta-pakistan.
Kurang lebih hanya maskapai timur tengah dan asia tenggara yang menyediakan
penerbangan ke Pakistan. Perjalanan
diawali dengan transit di Bangkok kurang lebih 4 jam,setelah itu dilanjut
dengan tujuan Karachi,Jinnah Intl Airport. Lama perjalanan Bangkok-Karachi
kurang lebih 5 jam.
 |
| Jinnah International Airport,Karachi |
Setelah tiba di KARACHI,namanya juga baru pertama kali
keluar negeri.Kami sekeluarga keliatan bingung-bingung. Sampe akhirnya ada pria
berpakaian staf mendatangi kami dan menginstruksikan kami untuk mengisi
beberapa form. Anehnya ia langsung minta bayaran sebesar 100 usd setelah itu.
Hampir saja kami ingin menukar uang rupiah kami,kemudian datang papa yang masih
berseragam pilot lengkap. Setelah bertemu dengan papa, staf aneh itu tidak
keliatan lagi. Sepertinya dia takut melihat papa yang ternyata ‘atasan’ di
bandara Jinnah International Airport,Karachi.
Kami langsung naik taxi untuk diantar ke guesthouse yang
menjadi tempat tinggal papa selama ini. Sekeliling tempat tinggal papa
merupakan daerah yang cukup elit,namun tetap saja suasana kota Karachi ini
kalau malam terasa kaya kota-kota yang ada di film-film perang(no offense! :p).
Kebetulan ada satu kamar yang kosong jadi disitu tempat anak-anak tidur. Kami
pun langsung tidur karena itu sudah tengah malam.
1 MARET 2009
 |
| suasana kota Karachi |
Bangun Pagi,yak anak perempuan disuruh masak indomi buat
sarapan kali ini. Guesthouse ini ada dapurnya di lantai bawah tapi kotor
banget. Ada juru masak+bersih2nya namun karena dia ga ngerti bikin indomi jadi
ya papa nyuru saya dan kakak saya kebawah masak,sebagai sogokan sama penjaganya
biar mau ngebersihin si papa ngasi indomi kari ayam 2 bungkus karena orang sana
suka banget indomi jenis tersebut(wajar sih....). Ada yang lewat-lewat di
dapur,umurnya kira2 sebaya atau lebih muda sedikit dari saya,seorang laki-laki
tampan. Saya langsung bilang ke Mba Nana. Dia langsung ngadu ke mama papa.
Ternyata kata papa dia itu orang Pashtun,suku yang mayoritas berasal dari
Pakistan utara jadi wajar kalau putih dan ganteng. Hooooo..
 |
| Suasana pinggiran jalan Islamabad |
Okelah,hari ini mau numpang naik pesawatnya papa(tapi bukan
papa yang nyetir) ke kota bernama ISLAMABAD. Kota ini merupakan
ibukota dari negara
Pakistan ini sendiri loh. Perjalanan tidak lama kurang lebih 1jam lebih dikiit
ditempuh dari Karachi-Islamabad. Kami juga langsung diantar van untuk check in
di hotel Best Western,salah satu hotel yang memiliki branch di seluruh dunia. Biasanya
papa kalau lagi terbang ke Islamabad pasti nginep di hotel itu dan udah dibayarin
kantor. Abis beberes barang dikamar,ganti baju dan mandi kami langsung cari
taxi. Taxi disini tidak sebagus di Asia Tenggara,semacam starlet yang sudah
agak lama. Karena itu kami menyewa 2 taxi,tidak muat kalo ber6 dalam satu
mobil. Kami mengunjungi Pakistan National Monument.
 |
| Pakistan National Monument |
 |
| Faisal Mosque |
Setelah berkeliling,kami
berniat solat Magrib di suatu masjid megah yang tidak bisa diucapkan dengan
kata-kata. Namanya Faisal Mosque. Saya waktu itu mengenakan
sweater,jeans,sneakers dan seuntai pashmina yang hanya dililit saja. Dengan
outfit seperti itu semua orang memandangi saya dan keluarga. Mereka sepertinya
jarang melihat turis apalagi turis masuk ke masjid. Kami solat menggunakan
mukena pun mereka seperti terheran-heran,karena umumnya wanita disana tidak
 |
| Suasana Islamabad malam hari |
menggunakan baju tambahan apapun. Pandangan itu bikin saya gak pengen ngelepas
pashmina saya selama jalan-jalan di pakistan. Saya ngerasa seksi banget dengan
outfit tersebut. Abis solat,taxi itupun menunggui kami sholat dan bersiap untuk
mengantar kami ke Margalla Hills,semacam bukit rekreasi. Bukit Rekreasi ini
terletak didaerah Islamabad juga. Disana viewnya sangat bagus dan udara cukup
sejuk. Kami menikmati makan malam disana.
2 MARET 2009
Bangun pagi masih di Islamabad Best Western
Hotel,breakfast,mandi,bersiap check out dan melakukan perjalanan ke Murree
(baca : marri). Murree adalah kawasan wisata gunung atau semacam Puncak(Jawa
Barat) yang berada tidak terlalu jauh dari Islamabad. Kami kesana naik Taxi
yang berupa sedan. Oke,muat ber 6,saya lupa gimana keadaannya saat itu pokoknya
muat ber6 ditambah 1 supir. Sempit-sempitan ditambah supir yang sepertinya
merupakan titisan pembalap bikin mama gak berenti komat-kamit karena ketakutan.
Jalan-jalan terjal serta tikungan maut banyak ditemui. Akhirnya tiba juga di
kawasan wisata Patriata Murree. Taxi kami pun masih setia menunggu di parkiran.Berharap
menemukan banyak turis bule,namun tetap tidak ada sama sekali.
 |
| suasana di dalam kawasan wisata Patriata |
 |
| chairlift |
 |
| papa lagi beli gorengan |
Semacam taman rekreasi,ada beberapa wahana permainan namun
seperti tidak beroperasi. Saya agak takut membayangkan taman tersebut seperti
taman ria yang ada di film2 thriller. Untungnya masih ada beberapa turis lokal
yang mengantri karcis chair lift seperti keluarga kami. Entah saat itu mama
tidak berani naik chair lift,jadi dia menunggu di kedai saja. Di chairlift kami
berpapasan dengan turis-turis lokal yang kebanyakan laki-laki dan mereka
menggodai kakak perempuan saya yang memang cantik dan terlihat seperti gadis
Indocina. Mereka menyerukan “Hello Chinese,Beautiful Chinese”.Norak banget
kayanya mereka ya,agak kasihan sih mungkin sebegitu jarangnya penduduk lokal
sana ngeliat turis asing. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit dengan
chairlift,kami tiba di bagian atas dari taman ria tersebut,ternyata ya memang
masih ada cukup banyak turis lokal. Kata officer setempat ,kalau musim panas
wisata
 |
bagian bawah penginapan
|
Saya dan adik saya mencoba naik kuda poni kecil. Dan
lagi-lagi saya terpukau oleh tampannya tukang kuda yang sedang melakukan
tawar-menawar dengan papa. Usianya kira-kira lebih tua dari saya 1 atau 2 tahun.
Okelah itu tidak penting. Kami pun beli gorengan setelah cape jalan,ada kentang
goreng yang sepertinya tepungnya pun mengandung bumbu curry(?) saya tidak
terlalu suka. Kami kembali ke mama dan ke tempat supir taxi menunggu. Kami pun
mencari tempat bermalam. Ada beberapa hotel kecil di kawasan tersebut hingga
ada hotel yang harganya paling reasonable yaitu Kings Hotel. Bagian bawah hotel
ini merupakan jejeran toko suvenir. Suhu sudah mulai kurang kewarasannya. Jauh
dibandingkan sebelumnya. Karachi semacam di Jakarta,Islamabad semacam di
Puncak, Kalau Murree semacam dimana ya mungkin puncak suatu gunung di Indonesia kali ya. Ngeliat
selimut dalem kamar,saya langsung berniat membungkus badan,tapi ternyata
selimutnya lembab dan dingin. Mau buang air kecil juga pas cebok dingin banget
kaya air es. Sementara yang lain istirahat,mama masak nasi karena katanya ada
KFC tidak jauh dari penginapan. Kami yang agak bosan makan masakan berbau curry
pun semangat. Kebetulan mama emang bawa rice cooker portable beserta berasnya.
Maklumlah namanya orang Indonesia jadi harus makan nasi. Sekalian mau beli
KFC,kami pun berniat membeli kaus kaki tebal dan sarung tangan karena dingin
sekali,sekitar 3 derajat celcius setelah papa bertanya kepada penduduk setempat.
 |
| Lobby Kings Hotel |
Setelah berjalan 10 menitan lebih ada juga ternyata KFC di
tempat yang aneh ini. Kawasan ini namanya Murree Mall Road.Lalu setelah itu
kami beli sarung tangan dan kaos kaki di kawasan pertokoan yang ada disana.
Kami pun kembali ke penginapan,makan dan istirahat. Malam harinya kami mengajak
sekeluarga untuk ke kawasan Mall Road lagi,barangkali ada yang mau beli
suvenir.
 |
| KFC murree |
Di pasar tersebut (lagi-lagi) orang ngeliatin wajah kami
yang ‘unik’ menurut mereka. Kimo ditanyain dari China atau bukan. Gusti
ditanyain orang jepang atau bukan oleh warga setempat. Sepertinya memang agak
jarang turis asing berwisata ke pakistan.Apalagi yang pergi dengan keluarga
seperti saya. Tanpa memperdulikan hal tersebut saya tetap liat-liat pashmina.
Pashmina yang dijual sangat beragam dan lucu-lucu. Ada yang mahal,murah,besar,kecil
semuanya menarik. Akhirnya ada beberapa yang dibeli juga di kawasan pertokoan
tersebutlalu kami kembali ke penginapan. Sekian untuk hari ini.
 |
| ayubia park |
3 MARET 2009
Ifa,Gusti,Mba Nana tidur di satu kamar yang sama. Sementara
Kimo,Papa,Mama tidur di kamar lain. Tengah malam Papa datang membangunkan kami
bersama seorang laki2 muda yang ganteng sekali. “Gasnya bocor ,Na.Bangun!”
,kata Papa.”It’s leak!”,sahut laki2 tsb. Ternyata pemanas ruang kamar kami
menggunakan gas dan gasnya agak bocor. Laki2 itu ternyata tukang gas setempat.
-______- Saya sangat menyayangkan banyak banget pemuda ganteng di Pakistan tapi
nasibnya hanya sampai di tukang cuci piring,tukang kuda,atau tukang gas..
Syukurlah saya tidak mengalami keadaan yang parah juga,Cuma
memang terasa sedikit sesak. Masalah pun tertanggulangi. Bangun pagi sarapan
dengan indomi(lagi2). Lalu kami menyewa van hotel ke suatu daerah wisata
bernama Ayubia. Sejenis taman ria yang hari sebelumnya saya kunjungi. Namun
lebih banyak salju bertebaran yang licin dan agak menyulitkan kami berjalan.
Sebelumnya sih kami sudah diberitahu papa kalau akan ke tempat yang bersalju.
Taman rianya sepertinya masih ditutup karena dianggap masih winter. Namun
chairlift tetap beroperasi untuk turis yang ingin main salju. Ada turis tapi
tetap hanya turis lokal. Tempat wisata di Murree relaif murah,walau saya kurang
ingat tepatnya. Kali ini mama berani naik chairlift sampai ke atas. Selama
perjalanan ke atas, ada anak2 setempat yang bernyanyi lagu pakistan dibawah
kami dan beberapa turis lokal menjatuhkan uangnya. Rupanya anak tersebut sedang
mengamen.
Sesampainya di atas,langsung terlihat hamparan salju yang
menumpuk namun agak kotor karena ini sudah penghujung musim dingin. Saya
langsung main2 saja gak peduli dilihat orang,kapan lagi saya bisa main salju.
Kami pun menghabiskan waktu bermain. Setelah puas bermain kami kembali ke
penginapan dan bersiap check out. Sebelum check out kami makan siang di daerah
Mall Road,namanya Usmania Restaurant .Kota berikutnya yang akan kami kunjungi bernama
Lahore. Kami menggunakan bus antar kota dengan brand “Sammi Daewoo”, kebetulan
naiknya dari pool Daewoo bus ini sendiri yang terletak di seberang penginapan
kami. Sambil menunggu bus datang kami menonton berita dan berita yang ramai di
TV menyatakan ada baku tembak yang baru saja siang hari tadinya terjadi di
pusat kuta Lahore,antara teroris dengan bus pemain kriket Srilanka. Papa
langsung sigap menelpon pihak apartemen yang lokasinya tidak terlalu jauh dari
tkp. Semuanya jadi sedikit panik Cuma pihak apartemen bisa memastikan kalau
disana aman. Kami pun berangkat ke Lahore dengan mampir ke pool kota Rawal
Pindi terlebih dahulu.
 |
| berita di TV waktu itu |
4 MARET 2009
Tengah malam,masih di bus. Bus Sammi Daewoo ini merupakan
bus AC dimana setiap pengunjungnya direkam wajahnya sebagai data penumpang,
dapat konsumsi berupa Lays rasa asin dan air mineral gelas,dan ada 1 org
pramugari. Kami tiba di pool bus Lahore sekitar pukul 3 dini hari,syukurnya
langsung dijemput oleh mobil van apartemen. Kami melintas tkp dan terlihat
ramai stasiun TV berdatangan semacam CNN,BBC ,Al Jazeera sudah standby bersama
reporternya masing-masing. Saya sudah ngeri aja bakal terjadi lagi tembak
menembak,ternyata memang tidak begitu jauh apartemen yang saya tempati dari
tkp. Papa telah mem-book apartemen dengan 3 KT,karena juga biasanya dia kalo
terbang dikasih akomodasi disitu. Namanya Maisonette Apartments,yah cukup
bagus.Setidaknya suhu Lahore normal dan cenderung panas,mungkin semacam suhu
Bogor. Kamarnya berAC ,setidaknya keadaan kami lebih layak daripada ketika
menginap di Murree.
 |
| maisonette apartments |
Kami pun tidur sejenak.
Kami bangun dan menyantap buffet breakfast di lantai bawah.
Setelah itu berjalan-jalan ke perbatasan India-Pakistan untuk melihat upacara
penurunan bendera sebelum sore hari. Di kota Lahore ini orang-orangnya
modern,yang biasanya memakai kurta bagi lelaki(semacam gamis) disini sudah
banyak yang mengenakan pakaian ala barat. Ibaratnya dibanding kota lain,kota
Lahore merupakan kota tergaul karena banyak kafe dan butik yang cukup mewah di
sepanjang jalan. Dan ternyata Lahore tidak jauh dari perbatasan India-Pakistan.
Turis yang ingin menonton upacara harus membayar karcis terlebih dahulu,tidak
mahal.Tentara Pakistan lebih tinggi besar dari tentara India namun penonton
upacara di India jauh lebih ramai turis dibanding di Pakistan....
 |
| Levi's & La Senza Store |
Setelah menonton border ceremony,kami pun mampir solat ke
Badshahi Mosque,salah satu mesjid yang sering saya pamerkan ke teman-teman
karena sering muncul di natgeo atau ensiklopedi,hehe.. Kami pun bersiap membeli
makan malam,mampir ke Restoran China untuk beli nasi goreng China dalam jumlah
banyak serta mampir ke KFC terdekat untuk membeli ayam yang banyak,semua
makanan di take away makan di apartemen. Karena bosan makan makanan berbau
curry,kami agak sedikit kangen masakan Indonesia sepertinya,haha.
Setelah makan malam,kami pun berkemas dan bersiap check out
untuk melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya yaitu Peshawar. Kami akan
menggunakan bis Sammi Daewoo lagi. Peshawar merupakan kota besar yang paling
berdekatan dengan Afghanistan dan tidak jarang terjadi peristiwa bom bunuh diri
di kota tersebut. Peshawar juga merupakan kota asal dari suku Pashtun(suku
dengan ciri fisik kulit putih pucat,mata agak kecil,biasanya cantik/ganteng).
 |
| Border Ceremony Pakistan-India |
Perjalanan menuju Peshawar kali ini papa gak ikut karena
harus terbang ke Karachi terlebih dahulu,baru ia bisa menyusul ke Peshawar esok
siang. Papa hanya menitipkan nanti kalau sudah tiba di pool bus Peshawar,akan
ada van hotel yang menunggu. Papa memberikan nomor telpon hotel ke Mba Nana
karena dianggap paling jago bahasa inggrisnya dan karena hp Mba Nana telah
dipasangi sim card lokal. Kami terlelap sepanjang perjalanan,dan ketika
bangun,seperti memasuki area kota perang rasanya. Jalanan gelap,penerangan
jalan jarang. Semua pertokoan gelap gulita dan banyak yang seperti setengah
jadi bangunannya.Benar-benar seperti di film perang,yah saya pikir toh nanti
juga saya akan nginep di hotel.
5 MARET 2009
 |
| semacam angkutan umum di kebanyakan kota |
Sesampainya di pool sekitar dini hari lagi,yah bisa dibilang
poolnya pun tidak seperti pool yang layak,semacam kios di dalam deretan ruko
yang belum jadi utuh. Sedikit menyeremkan keadaannya,banyak taxi yang seperti
starlet mangkal disana menjemput penumpang bus. Kami pun langsung mencari sosok
van yang menunggui kami. Hanya ada sesosok mobil starlet yang langsung menunggu
di pool. Supirnya langsung menyebut-nyebut nama papa karena hanya kami
penumpang yang membawa keluarga dengan anak-anak yang sudah remaja. Kami pun
jadi takut ,kenapa yang datang hanya 1 mobil starlet sementara yang dibilang
papa adalah van hotel. Selain tidak cukup,kami juga takut itu modus penculikan.
Setelah menelpon Papa dan pihak hotel,kami pun sepakat mencari 1 mobil lagi
dengan syarat 1 mobil taxi tersebut akan dibayarkan hotel sebagai ganti rugi.
 |
| kamar shelton Guesthouse |
Hotelnya standar tidak terlalu bagus, namanya Shelton Guesthouse. Disediakan 1 double
bedroom untuk kami ber 5,serta penghangat ruangan. Di Peshawar jauh lebih
dingin dibanding Lahore,namun tidak sedingin Murree. Kami yang kelelahan dan
agak ketakutan bersyukur sudah tiba di hotel saat itu dan langsung tidur.
 |
| deans plaza |
Esok pagi,kami sarapan dengan sisa nasi goreng cina semalam
dan breakfast yang diantar ke kamar. Sekitar siang hari barulah Papa datang dan
kami pun berjalan-jalan dengan tujuan shopping. Kami mampir ke semacam mall
yang menjual bahan-bahan tekstil yang cukup mewah bernama deans plaza,setelah
itu barulah kami mampir ke suatu traditional market yang menjual aksesori dan
bahan baju. Seperti biasa,dengan outfit yang kebarat-baratan kami pun tak
hentinya dipandangi oleh seisi market. Disana kami belanja beberapa oleh-oleh.
Gusti merasa ada yang mengikuti kami,bahkan sampai kami masuk ke van dan pergi
dia mengikuti dan melayangkan senyum ke kami. Saya mikirnya dia gak bakal
ngikutin kami sampai hotel terus dia datang sama temennya bawa senapan kaya di
film-film. Ternyata emang gak ada yang ngikutin lagi,dan asumsi Papa lelaki
tersebut itu intel yang bantu menjaga turis asing yang sedang berkeliaran di
kota yang nggak aman ini.
Malam harinya kami langsung ke bandara untuk mengejar
pesawat ke Karachi.
6 MARET 2009
 |
| Zainab Market |
Tengah malam lagi,langsung diantar kembali ke guest house
papa. Hari ini dikhususkan untuk berbelanja suvenir. Pergi ke Zainab
Traditional Market berbelanja Kurta serta Pashmina. Lalu ke supermarket
setempat untuk membeli oleh-oleh berupa makanan. Kami tak lupa mencoba es krim
ala india yaitu khulfi di suatu kedai. Sangat enak dan manis,recommended banget
untuk dicoba! Malam harinya oleh teman papa yang orang Pakistan kami diajak
makan ke restoran Barbeque Tonight, semacam tempat makan yang cukup elite di kalangan
warga kota Karachi. Saya memesan semacam bistik dengan saus barbeque pun
sepertinya tetap tidak bisa lepas dari bau-bau curry.
 |
| Suasana BBQ Tonight Resto |
Setelah berkeliling kami berkemas,penerbangan berangkat
sekitar hampir tengah malam. Setelah berfoto dengan kru dan pekerja di
guesthouse ,kami pun diantar ke bandara,untuk kembali ke Bangkok lalu ke
Jakarta. Padahal saya pengen banget kenalan sama anak Pashtun yang waktu hari
kedua saya temui, sayangnya saat itu bukan shift dia kerja di guesthouse.
Sekian perjalanan yang aneh,penuh kekurangan,dan agak
mendebarkan ini. Mudah-mudahan semua yang udah baca bisa terbuka
pikirannya,yang bertanya-tanya “kaya apa sih Pakistan?”. Sayang banget saya
nggak sempet ke Harappa dan Mohenjo Daro padahal itu merupakan tujuan besar
wisata sejarah dunia.
Dan kelemahan saya dalam bikin catper adalah saya paling gak
ahli review biaya pengeluaran.Mohon maaf yaaa.